LINKQ

Minggu, 02 Januari 2011

Tentara Allah turun di Ambon

Tragedi Ambon telah lewat sebulan. Namun, asapnya masih belum pupus benar. Meski berangsur pulih, denyut kehidupan di Ambon masih belum normal. Apalagi, darah masih terus tumpah di beberapa tempat di sekitar Kepulauan Maluku. Lagi-lagi, seperti pada tragedi Iedul Fitri kelabu, korbannya kebanyakan juga kaum muslimin. Seperti diketahui, dalam prahara Ambon, kaum muslimin menjadi kebiadaban kaum kafirin. Mereka dibantai dan disiksa dengan cara amat keji. Sejumlah kaum muslimah diperkosa. Sementara puluhan ribu orang menjadi pengungsi lantaran rumah dan toko mereka dibakar. Belum lagi belasan masjid yang dihancurkan atau dibakar.

Namun tak banyak yang tahu, di tengah segala kengerian itu terjadi peristiwa-peristiwa yang menakjubkan. Allah SWT menurunkan bala tentara-Nya ketika umat Islam nyaris jadi korban. Firman Allah SWT yang turun saat perang Badar berkecamuk belasan abad silam terbukti di bumi jihad Ambon: "Ingatlah, ketika kamu memohon pertolongan kepada Rabbmu, lalu diperkenankanNya bagimu. Sesungguhnya Aku akan mendatangkan bala bantuan kepadamu dengan sepuluh ribu malaikat yang datang berturut-turut (QS Al-Anfaal: 9)".

Kejadian-kejadian menakjubkan itu diceritakan oleh KH Abdul Aziz Arbi, MA, Imam Besar Masjid Jami' Al-Fatah, Ambon, kepada wartawan SABILI, M. Lili Nur Aulia dan Rizki Ridyasmara yang menemuinya, Ahad pagi (20/2) di Jakarta. Dalam wawancara selama satu setengah jam, Ustadz Abdul Aziz menuturkan kesaksiannya tentang turunnya bantuan Allah berupa sepasukan mujahidin cilik berjubah dan bersongkok putih. "Saya terpaksa mengungsikan istri dan kelima anak saya karena situasi Ambon yang masih sangat rawan. Tapi saya akan segera kembali ke sana", tutur alumnus Universitas Ummul Qura, Makkah, ini. Berikut uraiannya:

Ribuan Jundullah Cilik


Pada malam pertama kerusuhan Ambon, 19 Januari 1999, yang bertepatan dengan 1 Syawal 1419 H, saya berada di rumah bersama keluarga di dalam kompleks Masjid Raya Al-Fatah. Suasana malam itu terasa amat mencekam. Tiap setengah jam sekali terdengar tiang listrik dipukul bertalu-talu -tanda adanya serangan dari pihak Nasrani. Ibu-ibu dan anak-anak semuanya dicekam ketakutan yang luar biasa. Para penyerang itu menggunakan berbagai macam senjata. Mereka berteriak-teriak bengis. Itu terjadi sepanjang malam. Tak pernah berhenti. Kita hanya bisa menahan serangan mereka.
Pada malam kedua, saya dijemput dua puluh tentara Kostrad. Saya diberi tahu bahwa saya adalah orang pertama yang akan dibunuh. Saat itu terjadi penyerangan yang cukup hebat terhadap Masjid Raya Al-Fatah. Sejak malam hingga dini hari, orang-orang Nasrani itu menyerang kita secara bergelombang. Mereka bersenjatakan panah-panah api dan racun, parang, tombak, batu, kayu, besi, senapan berburu, bom molotov, hingga bom ikan. Pasukan Muslim hanya berbekal senjata seadanya: parang, kayu, batu, dan senjata apa saja yang bisa diraih. Ada kalanya kita mendesak mereka, namun sewaktu-waktu mereka ganti mendesak kita.

Sekitar pukul 24.00 hingga pukul 01.00 malam waktu setempat, umat Islam terdesak mundur. Musuh-musuh Islam, Nasrani-nasrani itu, maju hingga mencapai pagar Masjid Raya. Mereka benar-benar ingin menghancur-leburkan Masjid Raya kebanggaan kota Ambon itu. Di dalam masjid berkumpul lima ribuan pengungsi yang kebanyakan terdiri dari ibu-ibu dan anak kecil. Para penyerang itu tampak sudah sedemikian dekat dengan pagar masjid. Beberapa dari mereka bahkan telah melompati pagar. Umat Islam panik bercampur marah. Para pengungsi histeris ketakutan. Gambaran kehancuran masjid dan pembantaian pengungsi sudah terbayang di depan pelupuk mata. Keadaan sudah sedemikian gawat. Nyaris tanpa harapan.

Entah mengapa, tiba-tiba para penyerang itu berbalik dan lari terbirit-birit. Kelihatannya mereka sangat ketakutan. Kita sama sekali tidak menyangka. Sungguh kita tidak tahu apa yang sebenarnya terjadi. Ternyata mereka menyaksikan apa yang tidak bisa kita lihat. Ini kita ketahui melalui cerita seorang Nasrani yang berhasil ditawan: "Saya melihat ribuan kanak-kanak berusia sekitar sepuluh tahun, memakai baju dan songkok putih berlari kencang keluar dari dalam masjid ke arah kita. Seorang tua berjubah dan bersorban putih dengan tongkat di tangannya tampak memimpin pasukan itu. Jumlahnya sangat besar dan keberaniannya sangat luar biasa. Itulah yang membuat kami takut dan berbalik lari meninggalkan masjid". Subhanallah, Allahu Akbar ! Itu terjadi pada malam Kamis.


Tiupan Malaikat

Pada malam Jum'at, Masjid Al-Fatah kembali diserang. Kali ini mereka menyerang dari Jalan Baru - jalan ini terletak di depan masjid. Dengan memanfaatkan tiupan angin yang mengarah ke Masjid Al-Fatah, penyerangan dilakukan dengan membakar beberapa rumah di ujung selatan Jalan Baru. Mereka menggunakan anak panah yang menyala. Namun, ketika mereka menghujani rumah-rumah Muslim dengan ratusan anak panah berapi, panah-panah itu malah jatuh ke rumah-rumah Nasrani tetangganya. Tapi karena saat itu angin bertiup sangat kuat, rumah-rumah Muslim yang letaknya bersebelahan ikut terbakar.
Api merembet dengan cepat ke arah masjid. Tiupan angin kian mempercepat rembetan itu. Penduduk berhamburan keluar menyelamatkan diri ke Masjid Al-Fatah. Penduduk Muslim yang laki-laki bertempur di bawah kobaran api yang membubung tinggi, menahan gelombang serbuan kaum kafirin yang berusaha menerobos ke Masjid. Di Masjid, para pengungsi kembali panik. Kaum ibu berteriak histeris. Anak-anak menangis ketakutan. Hawa malam itu terasa sedemikian panas. Bercampur rasa kalut dan pasrah.

Melihat keadaan demikian, saya perintahkan semua wanita yang ada di dalam masjid mengenakan pakaian sholatnya. Saya komandokan mereka bertakbir mengagungkan nama Allah SWT. Allahu Akbar ! Allahu Akbar ! Allahu Akbar ! Gemuruh takbir kian lama kian kompak bergemuruh. Takbir yang diteriakkan oleh jiwa yang pasrah dan sungguh-sungguh mengharap pertolongan Allah membahana hingga ke luar masjid. Warga di Gang Diponegoro dan Batu Merah yang terletak di dekat Al-Fatah menangis saat mendengar takbir yang begitu memilukan. Kita bertakbir dari pukul 23.00 hingga 01.00 malam.

"Di malam yang penuh ketakutan itu, orang-orang yang berada di sekitar Masjid tiba-tiba dikejutkan oleh sebersit cahaya terang berwarna biru yang jatuh dari langit. Bola cahaya itu membelah kepekatan malam, meluncur tepat di atas Masjid Raya Al-Fatah. Entah apa sebabnya, tiba-tiba angin berbalik arah dan berhembus amat sangat kencang. Yang tadinya bertiup ke arah Masjid, kini berbalik seratus delapan puluh derajat menuju Gereja Silo. Seandainya angin masih tetap meniup ke arah Masjid, bukan tidak mungkin seluruh rumah Muslim akan habis. Tapi dengan ijin Allah SWT angin itu berbalik, dan akhirnya membakar Gereja Silo yang berjarak kurang lebih tiga ratus meter dari Al-Fatah".
Curangnya Pemda Ambon, khususnya petugas pemadam kebakaran, mereka telah memarkir dua unit mobil pemadam kebakaran di samping Gereja Silo, namun tidak di Masjid Al-Fatah. Mereka memadamkan api yang menjilat Gereja Silo.

Kita di Masjid tetap mengumandangkan takbir. Itu membuat orang-orang kafir makin kalap. Mereka kian bengis menyerang kita. Seorang pengungsi berkata kepada saya, "Ustadz, hentikan takbir. Mereka makin kalap menyerang". Takbir sejenak kita hentikan. Namun setelah berhenti, mereka tetap menyerang kita. Takbir akhirnya kita lanjutkan. Kita kembali menyusun pertahanan. Dengan takbir tersebut, kita memompa semangat jihad kawan-kawan. Mereka akhirnya bisa kita pukul mundur.
"Entah mengapa, seiring dengan terpukulnya pasukan kafir itu, angin kembali bertiup kencang menuju Gereja Silo. Api kembali membakar gereja itu". Mobil-mobil pemadam kebakaran-pun berusaha keras memadamkan api kembali. Itu terjadi pada malam Jum'at, 22 Januari 1999. Kita tidak bakar gereja, mereka sendirilah yang membawa-bawa api.


Ribuan Mujahidin Berjubah Putih

Pada hari Jum'at, 23 Januari 1999, masyarakat Desa Hitu - kurang lebih berjarak 25 km dari Ambon - ingin pergi ke Ambon bergabung dengan Muslim lainnya membela Agama Allah yang telah diinjak-injak kaum kafirin. Mereka baru mengerti, pengiriman orang-orang Nasrani dari kampung-kampung ke Ambon sebelum 'Iedul Fitri ternyata mengandung rencana busuk. Pada Hari Raya, jumlah Muslimin di Ambon berkurang drastis karena banyak yang mudik. Sedang orang-orang kafir bertambah banyak. Itu sebabnya mereka berani menyerang umat Islam.

Kabar yang beredar di masyarakat Desa Hitu dan sekitarnya menyebutkan bahwa dalam penyerangan Kamis malam, Masjid Raya Al-Fatah telah membakar dan saya - Imam Masjid tersebut - telah terbunuh oleh orang-orang Kristen. Kaum Muslimin Desa Hitu itu berkata, "Kalau Masjid Raya telah terbakar dan Ustadz telah terbunuh, untuk apa lagi kita hidup ! Mari bersama-sama kita jihad fi sabilillah !"
Di Ambon, jika orang ingin jihad fi sabilillah, mereka melakukan upacara ritual dulu: mereka mandi membersihkan segala najis yang mungkin masih melekat di sekujur tubuh, disusul dengan berwudhu, lalu mengenakan baju perang berupa jubah putih - dari Desa Hitu, Mamala, Maurela, dan Wakal - yang berjumlah sekitar empat puluh orang mulai bergerak. Mereka tidak banyak. Orang yang sungguh-sungguh siap untuk jihad fi sabilillah bukanlah orang sembarangan. Mereka harus mengerti betul apa hakikat jihad fi sabilillah tersebut.

Setibanya di Paso, mereka dihadang barikade pasukan Brimob. Pasukan Brimob itu memberi tahu bahwa Masjid Raya Al-Fatah tidak terbakar. Namun pemberitahuan itu tidak membuat pasukan jubah putih itu surut langkah. Mereka telah siap berjihad. Karena tidak mau kembali ke Hitu, akhirnya pasukan Brimob tersebut melepaskan beberapa tembakan ke arah mereka. "Namun aneh, tak sebutir peluru pun sanggup menembus jubah putih mereka. Peluru terakhir yang ditembakkan malah mental dan berbalik menuju aparat yang menembaknya. Ini diakui oleh si penembaknya sendiri".
Anggota Brimob itu menuturkan, "Setelah menembak mereka, peluru itu langsung mental, berbalik ke saya. Untung saya cepat menghindar. Setelah itu seluruh badan ini bergetar hebat. Gemetar. Senjata yang saya pegang jatuh. Akhirnya saya bilang sama komandan dan bahwa mereka ini bukan orang-orang biasa". Dalam penglihatan pasukan Brimob itu, empat puluh orang pasukan jubah putih tampak berjumlah ribuan orang. Empat orang tua berjubah dan bersorban putih yang duduk di atas empat kuda putih tampak memimpin pasukan besar tersebut. Padahal orang-orang muslim itu tidak melihat siapa-siapa selain keempat puluh warga Desa Hitu dan sekitarnya itu, dan tidak satu pun yang mengendarai kuda.

Setibanya di pinggiran Ambon, mereka dihadang tentara lagi. Mereka dinasehati agar kembali saja ke Hitu, sebab Masjid Al-Fatah tidak terbakar dan Ustadz Abdul Aziz masih hidup. Setelah mengecek kebenaran berita itu, akhirnya mereka pulang dengan damai. Dalam perjalanan pulang ke Hitu, mereka dihadang orang-orang Kristen. Terjadilah pertempuran hebat. Dalam waktu singkat seluruh orang-orang kafir itu berhasil ditumpas. Pertempuran itu menyebabnya seluruh perkampungan kafirin dan sejumlah gereja. Andai saja pasukan jubah putih itu tidak dihadang dan diserang, hal tersebut tidak akan pernah terjadi. Siapa menabur angin akan menuai badai.


Jundullah Cilik

Ada pula kejadian di belakang Kota, ini nama suatu perkampungan Arab di Ambon, tempat penjualan kayu. Pada malam kelima, perkampungan itu juga diserang musuh. Padahal banyak penghuni kampung tersebut telah mengungsi. Ketika diserang, kampung belakang Kota waktu itu hanya dihuni beberapa pemuda. Walau demikian, serangan kaum kafirin itu tidak menggetarkan pemuda-pemuda Muslim. Mereka melawan dengan gagah berani sambil meneriakkan takbir. Disebabkan kalah dalam segi jumlah personil maupun senjata, lama-kelamaan para pemuda itu terdesak. "Namun, lagi-lagi kejadian aneh terjadi. Para penyerang yang jumlahnya sangat banyak itu tiba-tiba mundur dan lari tunggang-langgang".
"Esok paginya orang-orang ramai membicarakan hal tersebut. Dari penuturan para penyerang, tersiar kabar bahwa mereka mundur disebabkan adanya segerombolan kanak-kanak kecil berbaju dan bersongkok putih. Kanak-kanak itu dipimpin seorang tua berjubah serba putih dan memegang tongkat. Pasukan serba putih itu menyerang mereka dengan gagah berani. Sama seperti yang mereka lihat di Masjid Raya Al-Fatah beberapa malam lalu". Mereka berkata, "Kita heran dengan orang-orang Islam. Kita sudah punya peralatan, rencana, dan senjata yang begitu kuat, kesiapan yang lengkap, ternyata itu semua tak sanggup untuk menghancurkan mereka. Entah, kanak-kanak itu datangnya dari mana".
Dalam kerusuhan Ambon, target bunuh pertama orang-orang Kristen itu adalah para ulama, lalu orang-orang Arab, pemuka-pemuka Islam, yang keempat barulah BBM (Buton, Bugis, Makasar). Ternyata setelah 'BBM' ini banyak yang mengungsi ke kampungnya, ternyata orang-orang Kristen itu tetap memerangi orang-orang Ambon yang Muslim. Ini terjadi di Pelauw. BBM ternyata bukan sekedar Buton, Bugis, Makasar, tapi lebih kepada "Bakar, Bunuh Muslim" ! Itu pengertian BBM sekarang ini, sebab hal tersebut terus saja berjalan. Keadaan di sana masih mencekam, terutama di Paso, sekitar delapan kilometer dari Kota Ambon.


Tragedi Bosnia terulang di Ambon

Ujian yang dialami kaum Muslimin di Karang Tagepe tidak kalah beratnya. Rumah dan kampung mereka habis dibakar oleh orang-orang kafirin. Di sana, menurut mereka, wanita-wanita Muslimah yang sedang hamil dibedah perutnya. Lalu dikeluarkan janinnya, dan dicincang-cincang. Anak-anak kecil yang lari ketakutan dan berusaha menyelamatkan diri ditangkapi lalu dilempar ke dalam api yang menyala. Jerit tangis bocah-bocah mungil itu sangat menyayat hati. Perlakuan iblis itu dilakukan orang-orang Nasrani di sana atas nama agamanya. Gadis-gadis Muslimah diperkosa beramai-ramai. Payudaranya ditoreh tanda salib dengan parang, lalu dipotong. Setelah puas, barulah dibunuh. Banyak di antara para Muslimah yang sudah syahid sebelum dibunuh kaum kafirin. Rasa sakit yang tak terperikan menghentikan detak jantungnya. Semoga Allah SWT berkenan menerima mereka di syurga seperti dijanjikanNya.

Kejadian yang berlangsung di Rumah Sakit Umum (RSU) di daerah Kudamati juga memilukan. Karena terjadi penyerangan di hari pertama, banyak orang Islam terluka. Mereka dibawa ke RSU di Kudamati. Walau mereka tahu Kudamati merupakan basis Nasrani, namun mungkin disebabkan lebih dekat maka mereka ke sana. Para penyerang itu diberitahu bahwa orang Islam banyak yang dirawat di RSU tersebut. Akhirnya orang-orang Nasrani itu menyerang RSU. KTP-KTP pasien digeledah untuk mengetahui pasien tersebut Islam atau non-Islam. Jika si pasien Islam maka langsung dibantai. Ibu-ibu hamil yang ada di rumah sakit itu pun banyak yang hilang. Mendengar kejadian tersebut, akhirnya banyak orang yang berobat ke Rumah Sakit Bersalin (RSB) yang ada di dalam kompleks Masjid Raya Al-Fatah. RSB Al-Fatah beralih fungsi menjadi Rumah Sakit Umum.

Di hari pertama kerusuhan pula, bertepatan dengan 'Iedul Fitri 1 Syawal 1419 H , nasib naas menimpa satu keluarga dengan dua orang anak yang tinggal di Deswa Wayane. Berawal dari suasana gembira lebaran, mereka silaturahmi ke rumah salah seorang saudara mereka yang juga merangkap toko di Pasar Mardika. Pasar itu kemudian dibakar. Dengan cepat suasana yang tadinya gembira berubah drastis menjadi suasana yang sangat mencekam. Terjadi keributan di Batu Merah, Mardika, dan tempat lainnya. Akhirnya keluarga ini pun tidak bisa pulang ke rumahnya di Desa Wayame.


Esoknya, kerusuhan meluas. Tengah malam Pasar Mardika dibakar. Sang bapak menuntun ibu dan dua anaknya yang masih kecil-kecil menyelamatkan diri dari kobaran api. Mereka berlindung di sebuah rumah yang tidak jauh dari Pasar Mardika. Pagi harinya mereka menyempatkan diri untuk sholat Dhuha dan berdo'a agar diselamatkan Allah SWT dari ketakutan ini. Dua jam mereka memanjatkan sholat dan berdo'a, sampai pukul 9.00 pagi. Setelah itu satu keluarga ini keluar menuju jalan raya. Sang bapak menggendong anak sulungnya di pundak, sedangkan ibunya menggendong si bungsu. Di jalan yang berada di pinggir laut, suasana sangat kalut dan mencekam. Keluarga ini berlari kecil menuju arah desanya. Si bapak dengan tangan terangkat ke atas memegangi anaknya yang duduk di pundaknya. Tiba-tiba, saat mereka sedang berlari, ari arah yang berlawanan segerombolan anak muda memanggil-manggil mereka dengan panggilan yang bersahabat. Di tangan mereka tergenggam parang, tombak, dan persenjataan lainnya. Si bapak yang baik hati ini mendengar panggilan itu dan berbaik sangka, dikiranya anak-anak muda itu akan menolongnya. Maka berlarilah keluarga ini mendekat ke mereka.
Dengan terengah-engah keluarga ini menghampiri anak-anak muda itu. Sebuah pertanyaan tiba-tiba terdengar dari mereka: "Islam atau Kristen !?" Dengan refleks si bapak menjawab, "Islam". Dalam sekejap mata sebuah parang yang panjang dan tajam disabetkan ke pinggang si bapak yang tangannya masih terangkat memegangi anak sulungnya. Si bapak menjerit dan tersungkur. Anaknya pun jatuh tak jauh dari bapaknya. Berikutnya terjadilah drama seram yang disaksikan oleh ibu dan kedua anaknya. Si bapak berlutut dan mengiba-iba, tangannya terangkat tinggi-tinggi, "Tolong jangan lukai saya. Saya tidak bersenjata " Tapi jawaban yang diterima malah sebuah balok kayu yang tepat menghantam kepalanya. Sang bapak jatuh tersungkur. Secepat kilat sebilah parang membelah kepalanya, diikuti puluhan parang dan tombak yang mencincang tubuhnya. Sungguh pedih penderitaan yang harus dialami keluarga tersebut. Dengan sigap, sang ibu menggendong kedua anaknya dan berlari menjauhi tempat tersebut dan bersembunyi di sebuah gudang hotel. Ia terpaksa meninggalkan suami tercinta dan anak kedua anaknya itu. Alhamdulillah, mereka selamat.

Peristiwa mengenaskan terjadi di sebuah SMEA pada hari ketujuh setelah kerusuhan. Siswa dan siswi yang Islam pada waktu itu disuruh bersembunyi oleh guru-guru mereka yang Kristen, "Hai kamu sekalian bersembunyi saja di satu ruangan. Kalau orang-orang itu tahu akan habisi kalian ini". Akhirnya para siswa-siswi itu bersembunyi di satu ruangan kelas. Ternyata ada guru lain, Kristen, yang memberi tahu para penyerang bahwa di sekolah tersebut ada anak-anak Islam yang tengah bersembunyi. Akhirnya orang-orang Kristen itu mendatangi SMEA tersebut dan membantai semua siswa-siswinya yang beragama Islam.

Dalam melakukan penyerangan, orang-orang Kristen itu bersenjata sangat lengkap. Dari jauh mereka menggunakan panah. Setelah agak dekat menggunakan tombak. Lebih dekat lagi memakai parang. Sedang kita semua tidak punya itu. Kita tidak memiliki niat untuk melakukan hal yang jelek. Karena mereka menyerang kita, maka kita membalas dengan bersenjatakan apa saja. Ada yang pergi ke dapur lalu menjumpai pisau, pisau itulah yang dipergunakan. Ada golok kita pakai, ada bambu kita runcingkan.
Mereka memakai kain merah dan ungu yang diikatkan di kepalanya. Yang berwarna merah bertugas melakukan penyerangan. Sedang yang berikat kepala ungu malakukan penghancuran. Terlihat jelas adanya koordinasi di antara mereka. Dalam kerusuhan Ambon, orang-orang Cina selamat. Saya melihat, pada saat terjadinya penyerangan, orang-orang Cina itu mengeluarkan saputangan putih yang di pinggirnya berwarna merah. Itu membuat mereka tidak diserang. Semua pertokoan Muslim terbakar, sementara toko mereka selamat. Di pasar Mardika, di satu tempat yang merupakan terminal, ada Batu Merah, Galunggung, dan sebagainya itu, semua punya Cina dan tidak terbakar. Di tempat lain, toko-toko Muslim semuanya terbakar. Sebelum penyerangan mereka melihat peta, yang mana pertokoan Muslim dan yang mana punya Cina. Mereka tahu tempatnya.

Banyak warga Ambon yang mengungsi. Tanggal 8 Februari 1999, saya dan kelarga meninggalkan Ambon. Arus pengungsi sangat banyak. Di pelabuhan ada sekitar 16.000 pengungsi yang harus dibawa menuju Buton dan Ujung Pandang. Kapasitas Kapal Siguntang itu hanya 7.000 orang. Karena orang yang harus diangkut terlalu banyak, kapal itu akhirnya mengangkut 9.000 pengungsi. Lebih dari itu kapal akan tenggelam. Itu dari Ambon saja. Sebelumnya dari Banda, dari Tual, banyak kapal-kapal sudah membawa ribuan pengungsi. Saya dan keluarga berjalan dari bawah ke atas kapal itu memakan waktu tiga jam ! Padahal jika normal paling satu menit sudah sampai. Itu disebabkan membludaknya jumlah pengungsi. Barang-barang tidak bisa lagi kita jinjing, itu semua harus dikerek ke atas kapal.
Kaum Muslimin Buton, Bugis, dan Makasar yang pulang ke daerahnya sesungguhnya hanya untuk mengantar anak dan istrinya saja ke tempat tinggal yang aman. Setelah itu mereka akan kembali semua ke Ambon bersama sanak famili yang laki-laki. Mereka akan mempertahankan Ambon Ambon sampai tetas darah terakhir. Mereka sudah bertekad untuk jihad fi sabilillah. Mereka bilang sama saya, "Ustadz, kita ini orang yang sudah banyak dosa. Kapan lagi kita akan menemukan hal yang seperti ini. Agama kita dihina. Harga diri umat Islam sudah diinjak-injak. Nabi Muhammad sudah dicaci-maki. Kapan lagi saya mau membela jika bukan sekarang !"

Kaum Muslimin yang belum ke luar Ambon kini tinggal di rumah-rumah orang Islam yang rumahnya tidak terbakar. Yang terbakar, mereka masih mendiami Taman Hiburan Rakyat Waihao, Masjid Raya Al-Fatah, Wayami, dan sebagainya. Orang-orang Islam rata-rata mendapat luka di tangan. Ada pula yang di kaki. Rata-rata kena panah. Agaknya panah-panah itu diberi racun, karena banyak yang tetanus setelah kena panah. Ada juga yang kena parang.

Hari Sabtu, hari kelima setelah kerusuhan, para pemuka Islam menghadap Kapolda dan minta izin, "Bila kita seperti ini terus, sampai kapan keadaan ini akan tuntas. Tolong, izinkan kami untuk berhadapan langsung dengan mereka. Izinkan kami untuk bertempur dengan orang-orang Nasrani itu. Kami hanya minta waktu empat jam. Jika mereka menang dalam pertempuran selama empat jam itu, kita umat Islam akan keluar dari Ambon. Tapi kalau mereka kalah, mereka harus keluar dari Ambon, dan Ambon untuk orang Islam". Itu sudah kami lakukan, tapi aparat tidak mengijinkan.
Kita terpaksa melakukan hal itu sebab aparat sangat tidak adil.Mereka memihak. Yang paling memihak adalah aparat kepolisian dan Brimob yang kebanyakan Kristen. Aparat yang Islam 'kan sedang cuti, mudik lebaran. Ketika orang Kristen yang menyerang dibiarkan, tapi giliran kita mau membalas, mereka melepaskan tembakan. Malah ada orang kita yang ditembak mereka dan meninggal. Itu terjadi di hari kedua.

Mayat-mayat yang mereka bantai tidak bisa kita lihat, sebab banyak yang terjadi di daerah mereka. Di Kudamati, misalnya, pada hari kelima kerusuhan, ada kejadian sedih yang menimpa orang Waihao. Ada pengusaha ikan, namanya Haji Lasanu. Orang Buton ini disuruh bosnya yang Taiwan untuk mengambil uang di Mangga Dua, basis Kristen. Dia mengajak anak buahnya empat orang dan seorang anaknya, Musthofa yang baru berumur 17 tahun. Sebenarnya Musthofa ini sedang tidur, tapi dibangunkan ayahnya. Sang isteri melarangnya mengajak anak itu. Tapi Haji Lasanu tetap bersikeras. Akhirnya berangkatlah mereka berenam ke Mangga Dua.

Ketika berangkat dan sampai di sana tidak ada kejadian apa-apa. Begitu akan turun, anak dan empat anak buahnya di mobil terdepan, sedang ayah satu mobil dengan bossnya di belakang. Di tengah perjalanan, sang bos ini lupa membawa handphone-nya, entah disengaja atau tidak, akhirnya satu mobil kembali ke Mangga Dua. Mobil anaknya terus turun. Di tengah perjalanan, mereka dihadang orang-orang Nasrani, orang di mobil tersebut tidak dapat berbuat apa-apa, sebab jumlah penghadang jauh lebih banyak. Kelima orang itu langsung dibunuh oleh kafirin. Setelah dibunuh, mayatnya dipotong-potong. Kepalanya dipisahkan dari lehernya, pangkal tangannya juga dipisahkan dari badannya. Para penyerang itu kemudian menghancurkan mobil, menyiramkan bensin, dan membakarnya. Mayat yang sudah hancur itu dilemparkan begitu saja ke api yang tengah menyala. Kejadian ini disaksikan banyak orang, berlangsung di tengah jalan raya.


Di rumah, sang ibu sudah cemas sebab sampai sore anaknya tidak juga pulang. Di malam hari terdengar kabar bahwa anaknya itu telah dibunuh dan dibakar. Dua hari setelah kejadian itu, ada kabar mayatnya akan dibawa ke Waihao. Di Waihao sendiri telah disiapkan kain kafan, dan lima liang kubur telah digali di sekitar rumah. Kita tidak mungkin menguburkannya di pekuburan Islam sebab terletak di Mangga Dua, daerah Kristen. Pekuburan tersebut sebenarnya tanah wakaf. Namun sampai saat ini surat-suratnya belum diterbitkan, sebab pejabat-pejabat yang berwenang kebanyakan Kristen. Akhirnya tanah itu diduduki orang Kristen. Merka buat gereja, buat rumah di atas tanah itu. Dari siang hingga tengah malam, kelima jenazah itu tidak juga didatangkan. Sebenarnya itu tiak mungkin. Untuk menenangkan keluarga Waihao itu, pihak kepolisian mengatakan pada mereka bahwa kelima korban itu sudah dikuburkan secara Islam. Padahal itu tidak benar.

Penyerangan orang-orang Nasrani kepada umat Islam di Ambon dan sekitarnya bukanlah tindakan kriminal murni. Mereka melihat itu sebagai bagian dari perang sucinya. Semestinya umat Islam dari luar Ambon - tanpa diminta oleh kita - wajib datang, merasa terpanggil. Sebab bukankah kita bersaudara ? Rasulullah saw mengatakan bahwa kita ini ibarat satu tubuh. Satu bagian yang dicubit maka sakitlah seluruh badan. Kita sekarang amat sangat butuh bantuan dari saudara-saudara seiman. Terutama untuk membangkitkan rasa percaya diri dan semangat jihad. Jika umat Islam sudah memiliki kepercayaan diri, kemudian dibangkitkan "izzatun nafs"-nya, insya Allah, walau tidak ada bantuan dari luar Ambon, kita, umat Islam di Ambon bisa mengatasi mereka. Kalau saja aparat memberi izin kita untuk bertempur dengan orang-orang kafir itu selama empat jam saja, secara adil, maka insya Allah, kita yakin bisa mengatasi mereka semua. Namun kita tetap membutuhkan bantuan dari saudara-saudara seiman di luar Ambon.

Senin, 01 November 2010

MUKJIZAT MASJIDDI MENTAWAI

Subhanallah..! Masjid Tak Tersentuh Tsunami Mentawai, 50 Orang Selamat

Mentawai (voa-islam.com) -Pagi itu, sekitar pukul 10.00 WIB, langit Sikakap tampak mendung. Di luar rumah tanah tampak lanyah. Pepohonan dan rerumputan masih basah setelah diguyur hujan deras sepanjang malam. Sebentar lagi, sepertinya hujan deras bakal turun. Ya, membasuh duka Bumi Sikerei.  

Di luar rumah, bau mayat menyengat. Aroma tak sedap menebar ditiup angin. Memang, hingga Jumat (29/10), mayat masih bergelimpangan di pinggir jalan. Pikiran saya langsung terbayang ratusan warga Pagai Selatan yang bertahan di perbukitan, dalam kondisi hujan badai. Selain menahan lapar, dinginnya malam, mereka harus melawan penyakit yang kini menyerang.     


Ternyata benar. Hujan deras mengguyur Sikakap. Tak hanya hujan, tapi juga badai. Di posko utama, para jurnalis dan relawan telah berkumpul. Seperti biasa, setiap pagi kami siap-siap menyisir desa terpencil yang belum terjamah bantuan. Pagi itu, tim relawan dan jurnalis hendak menuju Dusun Pasa Puat di Pagai Utara. Dusun itu, semua rumah hancur. Mujur, tidak ada korban jiwa.
..."Kami dalam masjid ada sekitar 50 orang, sedangkan warga yang lain telah menyelamatkan diri ke perbukitan yang berjarak satu kilometer dari masjid. Melihat masjid tidak kena sama sekali, kami merasa heran. Setelah itu kami sadar ini adalah kehendak Tuhan,...
Perjalanan menggunakan kapal kayu atau long boat. Kapal itu mampu memuat 12 orang dan sedikit logistik untuk pengungsi. Berapa menit berlayar, gelombang dua meter menghadang. Pelayaran pun dihentikan. Setelah menunggu sekitar satu jam, boat yang dinakhodai Dayat itu dilanjutkan selama dua jam pelayaran. Sepanjang perjalanan, boat nyaris karam karena dipenuhi air. Kami sampai di tujuan sekitar pukul 17.00 WIB.

Dari pantai, Dusun Pasa Puat sunyi senyap. Sedikit pun tidak terlihat tanda-tanda seperti sebuah kampung. Permukiman penduduk rata dengan tanah. Tak satu pun rumah warga yang berdiri. Semua tiarap. Hanya ada satu bangunan berdiri kokoh menghadap pantai. Ya, sebuah masjid. Garin masjid itu juga selamat. Zulfikar namanya.
Hari beranjak senja. Hujan belum juga reda. Zulfikar tampak bersiap menunaikan Shalat Maghrib. Dalam obrolannya, pria berusia 40 tahun itu mengaku telah tingal di dusun itu sejak kecil. Sama dengan usia masjid itu yang berdiri sekitar tahun 1960 silam. "Ini masjid tertua di dusun kami. Bentuk masjid itu sudah tidak asli lagi, karena terus diperbaiki," ujar Zulfikar.

Zulfikar menceritakan, masjid ini sama sekali tidak tersentuh tsunami pada malam itu. Padahal, lokasinya tidak jauh dari pantai. Sedangkan rumah-rumah warga di sekitar masjid, rata dengan tanah. Masjid inilah yang menjadi tempat perlindungan masyarakat saat gelombang besar datang.


Seperti mukjizat, air laut hanya sampai di teras masjid. Di luar masjid, Zulfikar melihat dengan mata kepala sendiri gelombang tsunami mencapai delapan meter. "Kami dalam masjid ada sekitar 50 orang, sedangkan warga yang lain telah menyelamatkan diri ke perbukitan yang berjarak satu kilometer dari masjid. Melihat masjid tidak kena sama sekali, kami merasa heran. Setelah itu kami sadar ini adalah kehendak Tuhan," jelas pria berjenggot itu.


Zulfikar dan 50 warga lainnya tidak henti-henti mengucap kebesaran Allah. Di luar masjid, tsunami terus menerjang sebanyak tiga gelombang. Tiada yang menduga, tsunami menghindar dari masjid. "Sepertinya, di masjid air terbelah, sehingga lantai masjid pun tidak basah sama sekali," kenangnya. (LieM/jpo)

Senin, 23 Agustus 2010

UNTUK PARA PENOLAK JIHAD

Dan di dalam Al Fatawa Al Bazaziyah disebutkan: Jika ada seorang wanita di Masyriq (wilayah timur) wajib bagi penduduk Maghrib (wilayah barat) untuk membebaskannya.. seorang wanita!! Lalu bagaimana halnya, sedangkamn kaum wanita dan kaum muslimin seluruhnya berada di dalam genggaman orang-orang kafir.
كيف القرار وكيف يهدأ مسلم    والمسلمات مع العدو المعتدي
القائلات إذا خشين فضيـحـة   جهـد المقالـة ليتنـا لم نولد
Bagaimana seorang muslim bisa diam tenang…
Sedangkan kaum muslimin bersama musuh yang menyerang …
Yang mana kaum wanita itu jika takut dihinakan, mereka mengucapkan…
Kata-kata yang menusuk hati; Duhai alangkah baiknya jika kami tidak pernah terlahir …

* Bagaimana kita bisa hidup senang sedakan kaum muslimat diperkosa di dalam penjara, kaum wanita yang masih suci dan perawan diperkosa oleh tentara-tentara Nushiriyyah, (admin: kini hal yang sama terjadi pula di Afghon, Iraq, sedangkan pelakunya adalah ahlul kitab dan paganis Amerika dan sekutunya) sampai wanita-wanita itu hamil lantaran tindakan keji penjagal itu. Lalu wanita-wanita itu mengirimkan surat kepada saudara-saudara mereka yang berada di luar penjara, yang berisikan: Kemarilah kalian dan hancurkanlah penjara ini bersama kami karena kami sudah tidak sanggup lagi untuk menanggung kehinaan ini …
أمــا لله والإســلام حـق      يدافع عنه شبـان وشيــب
فقل لذوي البصائر حيث كانوا     أجيبوا الله ويحكم أجيـبـــوا
Apakah Alloh dan Islam tidak memiliki hak …
Yang harus dibela oleh para pemuda dan kaum tua …
Katakanlah kepada orang-orang berakal di mana saja mereka berada …
Sambutlah seruan Alloh … celaka kalian … sambutlah seruan Alloh …
* Sesungguhnya orang-orang yang membantah wajibnya jihad sekarang ini, mereka itu hanyalah orang yang bodoh atau orang yang tendensius. Dan mereka itu, Alloh tidak berkehendak untuk membersihkan hati mereka. Sesungguhnya orang-orang yang membantah wajibnya jihad pada saat sekarang ini, yaitu mereka-mereka yang qo’udun (absen dalam jihad), yang pekerjaan mereka tidak lebih hanya sekedar mengkaji Al Qur’an lalu mondar-mandir di antara kenikmatan, tidur diatas kasur yang empuk, yang tidak bangun dan tidak tidur kecuali dalam namun demikian ia berbicara tentang masalah jihad … mereka itu adalah orang yang sebagaimana dikatakan oleh Ibnu Taimiyah: “Tidak boleh duduk bersama mereka.”
Ibnu Taimiyah mengatakan di dalam Majmu’ Fatawa juz 15: “Para pezina, homoseksual, orang-orang yang tidak berjihad, para pelaku bid’ah dan para peminum khomer, mereka itu tidak adalah orang-orang yang tidak memiliki nasehat (kesetiaan) kepada diri mereka sendiri dan kepada kaum muslimin, dan wajib hukumnya untuk mengisoler dan tidak boleh duduk bersama mereka.” Beliau meletakkan kalimat orang-orang yang tidak berjihad di antara para pezina dan homoseksual, dan di antara para pelaku bid’ah dan para peminum khomer, karena mereka itu statusnya dalam hukum Islam sama. Bahkan tahukah kalian apa perbedaan antara orang yang minum khomer dengan orang yang tidak berjihad?! Sesungguhnya orang yang minum khomer itu hanyalah membahayakan dirinya sendiri sedangkan orang yang tidak berjihad itu membahayakan umat secara keseluruhan.
* Dan orang sama sekali tidak mengetahui bahwasanya orang yang mengatakan kepada orang lain; Jangan pergi jihad sekarang ini, sama dengan orang yang mengatakan kepadanya; Jangan sholat. Dia tidak mengerti .. seakan ia sama sekali tidak berdosa.. ia mengatakan: “Jangan pergi berjihad, dan saya akan memikul dosanya.” Sembari menunjuk ke arah pundaknya.. dosanya ia akan tanggung! Sama halnya ia mengatakan: Makanlah pada bulan romadlon secara sengaja, ketika engkau dalam keadaan sehat dan tidak bepergian, saya akan memikul dosanya… ia sama dengan orang yang memotifasi orang lain agar meninggalkan sholat, atau meninggalkan puasa atau meninggalkan zakat padahal mereka mampu melaksanakannya. Mereka tidak memahami ini.
ليحملوا أوزارهم كاملة يوم القيامة ومن أوزار الذين يضلونهم بغير علم ألا ساء ما يزرون
Biarkan mereka memikul dosa mereka secara sempurna dan dosa orang-orang mereka sesatkan tanpa berdasarkan ilmu kelak pada hari qiyamat. Sungguh amat buruk apa yang mereka pikul. (An Nahl: 52)
Ia akan memikul dosanya dan dosa orang yang ia halangi untuk berjihad.
Belum cukupkah untuk menyatakan bahwa jihad di Palestina itu fardlu ‘ain padahal sudah 40 th anak keturunan kera dan babi bercokol di tanah yang paling suci dan yang diberkahi..?!
An-Nihayah wal Khulasoh, Al-Mujahid Syaikh Abdullah Azzam rahimahullah

Kamis, 27 Mei 2010

Perbendaharaan Strategi Israel

Fahmi Huwaidi

Haifatur Ru’yat Kuwait, Kamis 22 Jumadil Ula 1431, 6 Mei 2010

Statemen Israel soal pertemuan PMnya Benjamen Netanyahu dengan Presiden Mubarak rendahan bahkan tersembunyi niat buruk. Ketika seorang menteri Israel yang menyertai Benjemen Netanyahu menyatakan bahwa Mubarak bak “gudang strategi bagi Israel, maka statemen ini tidak boleh didiamkan.

Ini tidak mungkin dibenarkan sama sekali. Istilah itu hanya pas diberlakukan kepada politikus sekaliber Rinaji, George Bush, Ksingger, Sarkozi dan Mircel.

Dan di Israel sekelas Ben Gorion, Yitshak Rabbin, Ariel Sharon dan lainnya memiliki peran dalam mendirikan Israel dan mengibarkannya dan memberangus Palestina dan pada saat yang sama mampu menekuk lutut bangsa Arab dan menghinakannya.

Istilah perbendaharaan strategi yang rendahan itu keluar dari lisan Benjamen ebn Eliezer, menteri perdagangan dan perindustrian Israel ketika ia mengomentari hasil kunjungan Netenyahu ke Mesir bersama presiden Mubarak di Syarm Syekh pada Senin lalu (3/5).

Yahudi yang satu ini termasuk dalam barisan delegasi Israel. Radio militer Israel melakukan wawancara dengan Ben Eliezer sebagai berikut:

- Mesir sangat konsen berusaha mendorong presiden Palestina ke meja perundingan agar mau berdamai.

- Pertemuan selama 1,5 jam Mubarak dan Netenyahu dalam situasi sangat istimewa. Sehingga bagi Israel Husni Mubarak dianggap sebagai “perbendaharaan strategi”.

- Pembahasan antara kedua pihak menyinggung proses perdamaian di Timur Tengah dan upaya Mesir dalam hal ini.

Disamping itu juga membahas masalah Iran dari segala sisi dan akibat buruk jika negeri pada mullah itu memiliki senjata nuklir. Selain itu juga membahas upaya Mesir mengakhiri masalah penyanderaan serdadu Israel di Jalur Gaza Gilad Shalith dan upaya menghentikan penyelundupan senjata ke Jalur Gaza.

Seruan Mesir agar Timur Tengah bersih dari senjata nuklir bukan hal baru.

Tuntutan ini sudah sering disampaikan oleh Mubarak saat pertama kali kunjungan Mantan PM Israel Yisthak Rabbin pada tahun 1992. Pemerintah Israel memahami ini. Apalagi Mesir komitmen dengan pemerintah Israel untuk membuka akses dialog dalam masalah ini.

Untuk diketahui, Ben Eliezer adalah komandan satuan Eskid di militer Israel yang terbukti membunuh 250 pasukan Mesir dari satuan Comando Mesir di kota Aresy Juni 1965.

TV Israel mengungkap peran Eliezer dalam film dokumenternya yang disiarkan pada Maret 2007 yang mencakup pengakuan mantan komandan di satuan tersebut bahwa Ben Eliezer terlibat dalam operasi pembunuhan itu.

Film itu sempat membuat geger dan menciptakan ketegangan antara kedua negara. Ben Eliezer gagal berkunjung ke Kairo. Akibat film itu juga Mendagri Mesir mengirim surat yang sangat keras kepada Mendagri Israel meminta agar mengadili pembunuh tawanan Mesir.

Bahkan Mesir saat itu menuding Ben Eliezer dengan 6 surat kecaman karena melakukan tindakan kejahatan kemanusiaan.

Pengadilan Mesir juga sempat melakukan tindakan hukum terhadap Eliezer karena tuntutan salah satu keluarga tawanan Mesir yang menjadi korban. Namun masalah ini ditutup. Apakah karena factor ini, gambar Eliezer tidak muncul di Koran-koran Mesir saat bersama Netanyahu???

Benar ungkapan dari lisan Menteri Eliezer ini mengharuskan adanya pertanyaan soal kejadian akhir-akhir ini. Terutama soal agresi Israel ke Jalur Gaza terakhir, keterlibatan Mesir dalam memblokade Jalur Gaza, mendirikan tembok baja untuk semakin memperketat blockade.

Tapi kebodohan itu tidak seharusnya mendorong Eliezer menyebut Mubarak sebagai perbendaharaan strategi bagi Israel.

Ini skandal besar. Sayang skandal lebih besar dilakukan oleh Mesir yang tidak meminta kepada Israel untuk menjelaskan atau meminta maaf. (bn-bsyr)

Jumat, 21 Mei 2010

THOGHUT (ANTARA PERNYATAAN DAN KENYATAAN)

Sering kita mendengar kata thoghut itu diidentikkan dengan pemerintah yang melakukan kezholiman atau penganiayaan terhadap rakyat. Hingga tak aneh jika pernyataan itu mendorong sebagian rakyat untuk melakukan pemberontakan pada pemerintahnya. Akhirnya, terjadilah apa yang terjadi atas taqdir Allah. Pertikaian yang berkepanjangan antar rakyat dan pemerintahnya. Seperti yang terjadi di negeri kita ini dan negeri-negeri lainnya. Melihat tragedi yang memilukan ini terdoronglah hati saya untuk memberikan penjelasan dengan kaidah-kaidahnya yang disertai penerapan-penerapan konkret dengan harapan bisa menjadi wawasan bagi kita semua datam mensikapi kenyataan yang ada.

A. DEFINISI THOGHUT

Pada dasarnya definisi thoghut terbagi menjadi dua macam secara bahasa dan secara istilah.

  1. Secara Bahasa

Secara bahasa thoghut berasal dari kata :

طَغَا – يَطْغُوْ – طَغْوًا – فَهُو طَاغٍ

yang berarti melampaui batas. Seperti kalimat طغا الماء yang berarti air itu melampaui batas (jawa : luber)

  1. Secara istilah

Adapun secara istilah ada beberapa definisi tentang thoghut yang diungkapkan oleh para ulama diantaranya .

    • Imam Malik berkata thoghut adalah segala sesuatu yang diibadahi selain Allah.
    • lbnul Qoyyim berkata thoghut adalah segala sesuatu yang membuat hamba Allah meherjang batasan-batasannya.
    • Umar bin Khotthob berkata : thoghut adalah syetan
    • Ibnu Katsir berkata pendapat Umar bin Khotthob adalah pendapat yang paling kuat karena sangat cocok dengan keadaan masyarakat dimana ayat Allah tentangnya diturunkan.

"Tidak ada doktren dalam agama, telah jelas antara petunjuk dan kesesatan, barangsiapa yang ingkar kepada thoghut dan beriman kepada Allah sungguh dia telah berpegang teguh pada tali yang kokoh. (Al Baqarah : 256)

Oleh karena itu kedua definisi di atas dan semisalnya tidak akan cocok bila pada kenyataannya tidak terbukti. Karena tidak setiap yang diibadahi selain Allah bisa dikatakan thoghut atau tidak setiap yang membuat hamba-hamba Allah melanggar batasan-batasan-Nya bisa dibilang thoghut, kalau ternyata segala sesuatu itu bukan syetan. Sebagai contoh adalah Nabi Isa 'alaihissalam yang diibadahi oleh orang-orang Nashoro maka tidak bisa dikatakan thoghut karena Nabi Isa itu bukan syetan bahkan musuhnya syetan. Atau raja-raja Abbasiyyah yang banyak melanggar hukum-hukum Allah dan membuat hamba-hamba Allah melanggar batasan-batasan­Nya, seperti Al Ma'mum, Al Watsiq dan Al Mu'tashim billah, tidak bisa pula kita sebut thoghut karena bukan syetan. Apalagi Imam Ahmad sendiri yang sasaran penganiayaan mereka tidak menjuluki thoghut, malah mendo'akan ampunan bagi mereka. Sedangkan bisa dibilang syetan itu bila terbukti kafir

Akan tetapi syetan-syetan itulah yang kafir" (Al Baqarah : 102)

"Kecuali lblis, dia enggan dan sombong dan dia termasuk orang-orang kafir" (Al Baqarah : 34)

Dari keterangan di atas bisa kita simpulkan bahwa thoghut itu adalah syetan atau segala sesuatu yang diibadahi selain Allah sedang dia kafir atau segala sesuatu yang membuat hamba-hamba Allah menerjang batasan-batasan -Nya sedang dia kafir. Atau bisa disebut sebagai pemimpin-pemimpin orang kafir, seperti difirmankan oleh Allah Ta'ala.

"Sedangkan orang-orang kafir memimpin-pemimpin mereka adalah thoghut yang mengeluarkan mereka dari cahaya kepada kegelapan. Mereka itulah penghuni neraka, yang kekal di

dalamnya (Al Baqarah : 275)

Sebagai contoh adalah Iblis, Fir'aun, Namrud, Qorun, Abu Jahal, Abu Lahab, para dukun/para normal, dan semisalnya dari pemimpin-pemimpin kafir baik dari jenis manusia maupun jin.

B. KAPANKAH SESEORANG DIHUKUMI THOGHUT ?

Di atas telah kita dapatkan keterangan yang jelas tentang definisi thoghut. Yakni syetan atau pemimpin-pemimpin kafir, yang mempunyai tugas pokok mengeluarkan hamba Allah clan penunjuk menuju kesesatan

Namun apakah dengan definisi di atas kita diperbolehkan menluluki setiap orang yang atau pemimpin yang kebetulan kita jumpai bertipe seperti di atas dengan kita katakan si Fulan thoghut, si Fulan syetan, si Fulan kafir. Maka dalam hal ini ada beberapa jawaban antara lain

1. Apabila pemimpin itu ber­agama selain agama Islam maka bisa disebut thoghut dan sekaligus boleh diperangi atau diberontak bila kaum muslimin memiliki kemampu­an. Dan bila tidak memiliki kemampuan wajib bagi mereka hijrah ke negri Islam atau tetap tinggal di negri itu dengan terus berdakwah bila tidak mendapat­kan tekanan dari pemimpin kafir itu. Misalnya para pemimpin negara-negara Barat atau Eropa.

2. Adapun jika pemimpin itu beragama Islam sedangkan dia melakukan tindakan­-tindakan yang melampaui batas dan kezholiman, maka hal ini kita sampaikan kepada para ulama yang mutamakhin /mumpuni agar memberikan nasehat atau menegakkan hujjah berkali-kali dengan sabar hingga benar jelas bagi pemimpin itu bahwa tindakannya telah melampaui batas dan mengeluarkan dirinya dari Islam untuk akhirnya disebut thoghut.

Namun yang demikian ini tidaklah semudah membalikkan telapak tangan, karena mem­butuhkan kehati-hatian ulama dalam memberikan nasehat. Yang harus diikuti harapan besar untuk diterimanya nasehat dan bukan semata-mata se­kedar sebagai bukti bahwa dia telah menyampaikan nasehat untuk mendapatkan alasan bahwa pemimpin itu telah menentang Allah hingga bisa dijuluki thoghut. Naudzubillah mindzalik.

Cobalah kita lihat bagaimana kesabaran dua Imam Ahmad ; Ahmad bin Hambal dan Ahmad bin Taimiyah (Ibnu Taimiyah) yang meskipun berkali-kali nasehat­nya tidak diterima oleh rajanya tidak mendorong keduanya untuk mudah mengkafirkan raja­nya, bahkan meskipun kedua­nya selalu dipenjara dan dicambuk punggungnya. Lebih dari itu Ibnu Taimiyah dengan senang hati menerima perintah rajanya untuk menjadi panglima perang melawan raja Janghes­khan dan tentara para penyembah kubur. Meskipun tetap dijebloskan ke dalam penjara selesai memenangkan peperangan melawan bangsa Tartar itu.

Dan bukan seperti ajaran Khowarij suatu kelompok yang bermudah-mudah dalam meng­kafirkan pimpinannya manakala dipandang sedikit agak menyimpang dari agama. Mereka menyampaikan hujjah/nasehat itu hanya sebagai kedok bahwa dirinya telah menyampaikan nasehat, yang dalam hati mereka tak punya harapan sadarnya pemimpin.

Oleh karena itu hendaklah kita berhati-hati dari sikap mudah menjuluki thoghut pada pemerintah kita yang mungkin banyak melakukan penyimpangan yang mungkin disebabkan masih jauhnya mereka dari petunjuk-petunjuk agama, hingga sangat membutuhkan nasehat yang banyak melalui para ulama sambil kita bersabar dengan kezholiman ataupun kefasikan mereka, selama mereka masih menjalankan sholat.

"Dan sejelek jelek pemimpin kalian adalah orang-orang yang kalian membenci mereka dan mereka membenci kalian, kalian melaknat mereka dan mereka melaknat kalian. Dikatakan kepada beliau : Ya Rasulullah bolehkah kami memerangi mereka ? Beliau menjawab : tidak boleh, selama mereka masih sholat diantara kalian (HR. Muslim)

Abu Hamdan

Referensi

- Al Intishor Li Hizbillah oleh Abdullah bin Abdurrohman

- Silsilah Hadits-hadits Shohih oleh Albani

- Aqidatus Salafis Shohih oleh Abdullah bin Abdul Hamid

- Zhohirotut Tabdi' Wa Tafsiq waTakfir oleh Sholeh Fauzan

PEMBATAL KEISLAMAN


Sesungguhnya Allah Subhanahu wa Ta’ala mewajibkan kepada seluruh hamba-Nya untuk masuk ke dalam Dinul Islam dan berpegang teguh dengannya, serta mewaspai segala sesuatu yang akan menyimpangkan mereka dari din yang suci ini. Dia mengutus nabi-Nya, Muhammad Shallallahu ‘Alaihi Wa Sallam, dengan amanat da’wah yang suci dan mulia.

Allah juga telah mengingatkan hamba-Nya, bahwa barangsiapa yang mengikuti seruan para Rasul itu, maka dia telah mendapatkan hidayah; dan siapa yang berpaling dari seruannya, maka ia telah tersesat. Di dalam Kitabullah, ia mengingatkan manusia tentang perkara-perkara yang menjadi sebab “riddah” (murtad dari Dinul Islam) dan perkara-perkara yang termasuk kemusyrikan dan kekafiran. Beberapa ulama rahimahullah selanjutnya menyebutkan peringatan-peringatan Allah itu dalam kitab-kitab mereka.

Mereka mengingatkan bahwa sesungguhnya seorang muslim dapat dianggap murtad dari Dinul Islam disebabkan beberapa hal yang bertentangan, sehingga menjadi halal darah dan hartanya. Diantara sekian banyak hal yang membatalkan keislaman seseorang, Syaikh Al-Imam Muhammad bin Abdul Wahab rahimahullah, serta beberapa ulama lainnya menyebutkan sepuluh hal yang paling banyak dilakukan oleh umat Islam. Dengan mengharap keselamatan dan kesejahteraan dari-Nya, kami paparkan dengan ringan sebagai berikut :

1. Mengadakan persekutuan dalam beribadah kepada Allah. Dalam kaitan ini, Allah berfirman :

“Sesungguhnya Allah tidak mengampuni dosa orang yang menyekutukan-Nya dan mengampuni selain dosa syrik bagi siapa yang dikehendaki…”. (An-Nisa: 116).

“Sesungguhnya siapa saja yang mempersekutukan sesuatu dengan Allah, maka pasti Allah mengharamkan kepadanya surga, dan tempatnya adalah neraka. Tidaklah ada bagi orang-orang zalim itu seorang penolongpun”. (Al-Maidah: 72)

Termasuk dalam hal ini, permohonan pertolongan dan permohonan do’a kepada orang mati serta bernadzar dan menyembelih qurban untuk mereka.

2. Menjadikan sesuatu atau seseorang sebagai perantara do’a, permohonan syafaat, serta sikap tawakal mereka kepada Allah.

3. Menolak untuk mengkafirkan orang-orang musyrik, atau menyangsikan kekafiran mereka, bahkan membenarkan madzhab mereka.

4. Berkeyakinan bahwa petunjuk selain yang datang dari Nabi muhammad Shallallahu ‘Alaihi Wa Sallam lebih sempurna dan lebih baik. Menganggap suatu hukum atau undang-undang lainnya lebih baik dibandingkan syari’at Rasulullah Shallallahu ‘Alaihi Wa Sallam, serta lebih mengutamakan hukum taghut dibandingkan ketetapan Rasulullah Shalalhu ‘Alaihi Wa Sallam.

5. Membenci sesuatu yang datangnya dari Rasulullah Shallallahu ‘Alaihi Wa Sallam, meskipun diamalkannya. Dalam hal ini Allah berfirman :

“Demikian itu karena sesungguhnya mereka benci terhadap apa yang diturunkan Allah, maka Allah menghapuskan (pahala) amal-amal mereka”. (Muhammad: 9).

6. Mengolok-olok sebagian dari Din yang dibawa Rasulullah Shallallahu ‘Alaihi Wa Sallam, misalnya tentang pahala atau balasan yang akan diterima. Allah berfirman:

“…Katakanlah, apakah dengan Allah, ayat-ayat-Nya, dan Rasul-Nya kamu selalu berolok-olok? Tidak usah kamu minta ma’af, karena kamu kafir sesudah beriman…”.(At-Taubah: 65-66).

7. Masalah sihir. Diantara bentuk sihir adalah “Ash Sharf” (pengalihan), yaitu mengubah perasaan seorang laki-laki menjadi benci kepada istrinya. Sedangkan “Al ‘Athaf” adalah sebaliknya, menjadikan orang senang terhadap apa yang sebelumnya dia benci dengan bantuan syaithan.

Orang yang melakukan kegiatan sihir hukumnya kafir. Sebagai dalilnya adalah firman Allah, yang artinya :
“..dan keduanya tidak mengajarkan sihir kepada seseorang pun sebelum mengatakan,’Sesungguhnya kami hanya cobaan bagimu, karena itu janganlah kamu kafir…”.(Al-Baqoroh: 102).

8. Mengutamakan orang kafir serta memberikan pertolongan dan bantuan kepada orang musyrik lebih daripada pertolongan dan bantuan yang diberikan kepada kaum muslimin. Allah berfirman, yang artinya:

“…barangsiapa di antara kamu, mengambil mereka orang-orang musyrik menjadi pemimpin, maka sesungguhnya orang itu termasuk golongan mereka. Sesungguhnya Allah tidak memberi petunjuk kepada orang-orang zhalim”.(Al-Maidah: 51).

9. Beranggapan bahwa manusia bisa leluasa kelar dari syari’at Muhammad Shallallahu ‘Alaihi Wa Sallam. Dalam kaitan ini Allah berfirman :

“Barangsiapa yang mencari agama selain Dinul Islam, maka dia tidak diterima amal perbuatannya, sedang dia di akhirat nanti termasuk orang-orang yang merugi”.(Ali-Imran: 85).

10. Berpaling dari Dinullah, baik karena dia tidak mau mempelajarinya atau karena tidak mau mengamalkannya. Hal ini berdasarkan firman Allah :


“dan siapakah yang lebih zhalim daripada orang yang telah diperingatkan dengan ayat-ayat Rabbnya, kemudian ia berpaling daripadanya? Sesungguhnya Kami akan memberikan pembalasan kepada orang-prang yang berdosa”. (As-Sajadah: 22).


Itulah sepuluh naqidhah (pembatal) yang perlu diwaspadai oleh setiap muslim, agar dia tidak terjerumus untuk melakukan salah satu diantara kesepuluh sebab yang dapat mengeluarkannya dari Dinul Islam.

Begitu seseorang meyakini bahwa undang-undang yang dibuat manusia lebih utama dan lebih baik dibandingkan syari’at Islam, maka ia telah kafir. Demikain juga jika ia menganggap bahwa ketentuan-ketentuan Islam sudah tidak relevan lagi untuk diterapkan pada zaman mutakhir ini, atau bahkan beranggapan bahwa aturan Islam adalah penyebab kemunduran dan keterbelakangan umat Islam. Seseorang juga tergolong kafir bila beranggapan bahwa Dinul Islam hanya menyangkut hubungan ritual antara hamba dan rabbnya, tetapi tidak ada kaitannya dengan masalah-masalah duniawi.

Demikian juga jika seseorang memegang bahwa pelaksanaan syari’at Islam, misalnya hukum potong tangan bagi pencuri, hukum rajam bagi pezina muhshon (pezina yang sudah kawin) tidak sesuai dengan peradaban modern, begitu pula halnya dengan seseorang yang beranggapan bahwa seseorang boleh tidak berhukum dengan syari’at Allah dalam hal muamalat (kemasyarakatan), hudud, serta dalam hukum-hukum lainnya. Ia telah terjatuh kepada kekafiran, meskipun ia belum sampai pada keyakinan bahwa hukum yang dianutnya lebih utama dari hukum Islam, karena boleh jadi ia telah menghalalkan apa yang diharamkan Allah, dengan dalih keterpaksaan, seperti berzina (karena beralasan mencari nafkah), minum khamr, riba dan berhukum dengan hukum rekaan manusia.

Marilah kita berlindung kepada Alah dari hal-hal yang menyebabkan kemurkaan-Nya dan dari adzabnya yang pedih. Shalawat dan salam mudah-mudahan dilimpahkan kepada sebaik-baiknya mahluk-Nya, Muhammad Rasulullah, juga kepada keluarga dan para sahabatnya.


Maraji':
Aqidah Shohihah Vs Aqidah Bathilah, Syaikh Abdul Aziz bin baaz,